Kuputar kembali lagu itu. Entah udah keberapa kalinya diputar untuk hari ini,aku tak tau. Kurasa lebih dari 10 kali? Mungkin saja. Tapi aku tak pernah mengenal kata ‘bosan’ saat dengerin lagu ini.
*****
Aku berada disekolahku. Kulirik
jam ditanganku sambil mendesah pelan. Jam 4.30 sore. Berarti aku belum dijemput
selama 30 menit. Aku pun pergi kelapangan basket dan duduk dibangku supporter . Aku
melihat dia bermain dengan sangat serius,dan berhasil mencetak banyak angka.
Aku kagum padanya. Kulihat dia berlari kearahku,dan semakin mendekat. Jantungku
berdegub kencang. Dia duduk disebelahku dan meminum airnya.
“Yah,abis lagi” Keluhnya pelan. Aku mengacak-acak tasku,dan menemukan sebotol air mineral yang masih baru. Dengan ragu aku menyodorkannya pada lelaki itu. Dia menatapku bentar,dan mengambil air itu dari tanganku.
“Thanks ya”
Aku ngangguk sambil senyum manis.
“Oh ya,nama lo siapa? Kok gue gak pernah lihat ya sebelumnya?”
Deg. Bukannya senang,tapi aku malah kecewa. Sebanyak apa siswa di sekolah ini sampai-sampai dia tidak pernah melihat aku? Jelas aja sih,kan dia cowok populer sedangkan aku hanyalah seorang gadis biasa yang mengidolakannya.
“Gue Ashilla Zahrantiara. Shilla”
“Wow,lo yang penulis cerpen disekolahkan? Gue suka banget sama cerpen-cerpen lo. Dalem banget loh hehe” Aku tersenyum. Ternyata dia mau membaca cerpen aku juga toh. Ada rasa kebanggaan tersendiri dalam diriku.
“Gue Alvin Jo. Btw lo kelas berapa? Jujur walau gue fans berat sama cerpen lo gue belom tau apa-apa tentang lo nih”
Aku senyum tipis. Cuma fans sama cerpen aku doang nih? Ya,mungkin aku terlalu banyak bermimpi kali ya? Kan Alvin itu cowok populer disekolah yang notaben-nya pacarnya Zevana,si anak pemilik sekolah ini. Tapi yang aku dengar mereka lagi berantem sekarang.
“Haha,gue XII-3”
“Oh,pantes. Gue XII-1”
Aku mengedarkan pandangan kearah lain. Eh,itukan mobil ku? Wah ternyata aku sudah dijemput. Aku pun beranjak berdiri. Alvin menatapku bingung.
“Vin,gue udah dijemput nih. Duluan ya,bye!” Aku pun berlari kearah dimana mobilku diparkir dan mobilku melaju meninggalkan sekolah.
“Yah,abis lagi” Keluhnya pelan. Aku mengacak-acak tasku,dan menemukan sebotol air mineral yang masih baru. Dengan ragu aku menyodorkannya pada lelaki itu. Dia menatapku bentar,dan mengambil air itu dari tanganku.
“Thanks ya”
Aku ngangguk sambil senyum manis.
“Oh ya,nama lo siapa? Kok gue gak pernah lihat ya sebelumnya?”
Deg. Bukannya senang,tapi aku malah kecewa. Sebanyak apa siswa di sekolah ini sampai-sampai dia tidak pernah melihat aku? Jelas aja sih,kan dia cowok populer sedangkan aku hanyalah seorang gadis biasa yang mengidolakannya.
“Gue Ashilla Zahrantiara. Shilla”
“Wow,lo yang penulis cerpen disekolahkan? Gue suka banget sama cerpen-cerpen lo. Dalem banget loh hehe” Aku tersenyum. Ternyata dia mau membaca cerpen aku juga toh. Ada rasa kebanggaan tersendiri dalam diriku.
“Gue Alvin Jo. Btw lo kelas berapa? Jujur walau gue fans berat sama cerpen lo gue belom tau apa-apa tentang lo nih”
Aku senyum tipis. Cuma fans sama cerpen aku doang nih? Ya,mungkin aku terlalu banyak bermimpi kali ya? Kan Alvin itu cowok populer disekolah yang notaben-nya pacarnya Zevana,si anak pemilik sekolah ini. Tapi yang aku dengar mereka lagi berantem sekarang.
“Haha,gue XII-3”
“Oh,pantes. Gue XII-1”
Aku mengedarkan pandangan kearah lain. Eh,itukan mobil ku? Wah ternyata aku sudah dijemput. Aku pun beranjak berdiri. Alvin menatapku bingung.
“Vin,gue udah dijemput nih. Duluan ya,bye!” Aku pun berlari kearah dimana mobilku diparkir dan mobilku melaju meninggalkan sekolah.
*****
Kutak percaya kau ada disini..
Menemaniku disaat dia pergi..
Menemaniku disaat dia pergi..
Aku menghempaskan diri dikasur.
Ah,lagu itu kembali diputar. Entah mengapa aku suka sekali mendengarkan lagu
itu. Gak ada abis-abisnya. Aku pun teringat kembali kejadian kemarin disekolah.
Alvin yang mengajakku berkenalan,Alvin yang mengaku fans cerpen-cerpenku..
Walau hanya sekitar 10 menit saja aku bersamanya,aku sudah bersyukur bisa
mengobrol sama dia. Mungkin kemarin harus aku abadikan nih. Haha aku ngaco
banget.
*****
Sungguh bahagia kau ada disini..
Menghapus semua sakit yang kurasa..
Menghapus semua sakit yang kurasa..
Kudengar ada gossip kalau
Alvin-Zevana putus. Ingat,masih gossip. Aku sekarang lagi mencari info akurat.
Eits,aku bukannya kepo,aku hanya ingin tau. Aku berjalan sambil mencari info di twitter atau gak bbm. Tiba-tiba..
BRUK!
“Aw!” teriakku spontan.
“Heh hati-hati kek! Gak tau orang lagi bad mood apa?!” Aku nengok. Eh mampus. Zevana.
“Eh.. Maaf Ze gue gak sengaja”
“Maaf maaf! Gampang banget lo ngomongnya ya! Argh minggir!”
Zevana mendorongku sampai aku hampir jatuh. Untungnya dibelakangku ada yang menahan agar aku tidak jatuh. Aku spontan noleh. Tapi seketika itu juga aku kaget.
“Heh lo kalo lagi bad mood jangan ngelampiasin perasaan lo sama oranglain bisa kan?” Tanya Alvin –orang yang bantuin aku-
“What? Lo tuh keterlaluan ya Vin! Lo juga!” Ucap Zeva emosi sambil nunjuk-nunjuk aku. Lah,kenapa jadi aku?
“Gak usah bawa-bawa dia!” Ujar Alvin dingin. Apa dia sedang membelaku?
“Vin,lo tuh ya! Argh!” Zevana langsung pergi. Aku melengos. Alvin menatapku.
“Lo gapapa?”
“Gapapa. Thanks Vin”
Aku beranjak pergi. Hm,aku putuskan buat pergi ketaman belakang sekolahku. Disini memang sepi,enak banget buat melampiaskan isi hati ditaman ini. Aku berjalan kearah bangku taman dan duduk disana. Kukeluarkan buku diary hijau-ku dan IPod ungu kesayanganku. Lagu itu kembali mengalun. Oh,mungkinkan aku berjodoh dengan lagu ini?
“Aw!” teriakku spontan.
“Heh hati-hati kek! Gak tau orang lagi bad mood apa?!” Aku nengok. Eh mampus. Zevana.
“Eh.. Maaf Ze gue gak sengaja”
“Maaf maaf! Gampang banget lo ngomongnya ya! Argh minggir!”
Zevana mendorongku sampai aku hampir jatuh. Untungnya dibelakangku ada yang menahan agar aku tidak jatuh. Aku spontan noleh. Tapi seketika itu juga aku kaget.
“Heh lo kalo lagi bad mood jangan ngelampiasin perasaan lo sama oranglain bisa kan?” Tanya Alvin –orang yang bantuin aku-
“What? Lo tuh keterlaluan ya Vin! Lo juga!” Ucap Zeva emosi sambil nunjuk-nunjuk aku. Lah,kenapa jadi aku?
“Gak usah bawa-bawa dia!” Ujar Alvin dingin. Apa dia sedang membelaku?
“Vin,lo tuh ya! Argh!” Zevana langsung pergi. Aku melengos. Alvin menatapku.
“Lo gapapa?”
“Gapapa. Thanks Vin”
Aku beranjak pergi. Hm,aku putuskan buat pergi ketaman belakang sekolahku. Disini memang sepi,enak banget buat melampiaskan isi hati ditaman ini. Aku berjalan kearah bangku taman dan duduk disana. Kukeluarkan buku diary hijau-ku dan IPod ungu kesayanganku. Lagu itu kembali mengalun. Oh,mungkinkan aku berjodoh dengan lagu ini?
Mungkinkah kau merasakan..
Semua yang kupasrahkan..
Kenanglah kasih..
Semua yang kupasrahkan..
Kenanglah kasih..
Aku asik menulis diary-ku sambil
mendengarkan lagu.
“Shill? SHILLA!” Suara itu cukup membuatku kaget. Aku langsung noleh.
“Eh,kenapa Vi?” Aku melepaskan earphone ku dan menoleh ke Via,temen sekelasku. Dia cukup dekat denganku,dia juga tau tempat favorit ku yaitu disini. Jadi dia gampang nemuin aku. Eh kok malah curcol?
“Kenapa gak masuk kelas? Mau bolos?”
“Bolos? Emang udah bel ya?”
“Udah dari tadi kali! Cepetan ke kelas sebelum pak Duta dateng!”
Aku panik,pak Duta kan guru killer disekolahku. Aku langsung menaruh diary dan IPod ku asal-asalan dan berlari kedalam kelas.
“Shill? SHILLA!” Suara itu cukup membuatku kaget. Aku langsung noleh.
“Eh,kenapa Vi?” Aku melepaskan earphone ku dan menoleh ke Via,temen sekelasku. Dia cukup dekat denganku,dia juga tau tempat favorit ku yaitu disini. Jadi dia gampang nemuin aku. Eh kok malah curcol?
“Kenapa gak masuk kelas? Mau bolos?”
“Bolos? Emang udah bel ya?”
“Udah dari tadi kali! Cepetan ke kelas sebelum pak Duta dateng!”
Aku panik,pak Duta kan guru killer disekolahku. Aku langsung menaruh diary dan IPod ku asal-asalan dan berlari kedalam kelas.
*****
Panik. Dimana diary ku? Tadikan
sudahku taruh didalam tas? Apa ada orang yang mencurinya? Tapi buat apa? Galau.
Jika ada yang membacanya,aku bisa mati! Didiary itu aku menceritakan tentang
seorang Alvin yang kukagumi. Gimana nih? Apa jatuh saat aku menaruhnya ditas
tadi siang? Pasti! Tapi nampaknya aku harus bersabar menunggu esok pagi karena
sekarang sudah larut malam..
*****
Aku sudah mencari diary ku
ditaman ini. Tapi nihil. Diary itu dinyatakan.. Hilang. Aku pun berjalan gontai
meninggalkan taman ini,dan kembali kekelas.
*****
Huft,seperti biasa,pulang sekolah ini aku harus menunggu supirku yang belum menjemputku. Sudah lebih dari 45 menit aku menunggu. Banyak siswa sudah balik ke rumahnya masing-masing. Sekolah sepi,layaknya pulau tak berpenghuni. Aku berjalan mengelilingi sekolah,seolah mencari kesibukan. Aku menatap kosong kedepan.
“Ashilla?” Aku langsung tersadar.
“Eh?”
“Eum,bisa ngomong bentar?”
Aku berpikir sebentar dan menyetujuinya. Dia membawaku ke taman. Aku langsung duduk dibangku taman.
“Mau ngomong apa?” Tanyaku to the point. Asal kalian tau,hatiku seakan-akan copot saat dekat dengannya.
“Hm,ini punya lo”
Aku tersentak kaget. Itu kan.. Diaryku yang hilang itu? Ahhh!
“Kok.. ada di lo?” Tanyaku masih shock.
“Kemaren gue ke sini terus gue nemuin diary ini.. Dan,sori gue udah lancang baca isinya..”
Aku kaget. Banget. Kalian tau kan? Diary itukan curhatanku tentang dia..
“Semuanya?” Tanyaku tak percaya. Dia ngangguk ragu-ragu.
“Sorry..”
Aku pasrah. Oh.. Apa kata dunia? Harga diriku jatuh begitu saja.
“Lo.. Naksir sama gue?”
Mataku melebar dan menatapnya ragu-ragu,dan langsung membuang muka menahan malu.
“G-gak kok,gak. Siapa bilang?” Aku mengelak. Tapi jelas-jelas diary itu sudah menjelaskan semuanya. Ugh,kenapa aku harus ceroboh begini meletakkan barangku? Kan jadi gini akhirnya. Ah,Shilla bego!
“Diary lo” SKAKMAT. Tamatlah riwayatku kawan.
“Eh eh gue duluan ya Vin” Aku langsung ngacir meninggalkan Alvin sendirian. Fiuh,untung aku bisa lepas dari pertanyaan mematikan itu. Aku duduk dikantin,kebetulan kantin gak jauh dari parkiran jadi aku bisa tau kalau supirku sudah datang menjemput. Aku mengeluarkan laptop-ku dari tas dan membuka Microsoft Word,sepertinya aku punya ide membuat cerpen baru,yang kejadiannya tentang aku dan dia. Ya,aku dan dia. Aku pun larut dalam duniaku sampai bunyi klakson itu berbunyi. Aku noleh dan bergegas meninggalkan sekolah itu.
Huft,seperti biasa,pulang sekolah ini aku harus menunggu supirku yang belum menjemputku. Sudah lebih dari 45 menit aku menunggu. Banyak siswa sudah balik ke rumahnya masing-masing. Sekolah sepi,layaknya pulau tak berpenghuni. Aku berjalan mengelilingi sekolah,seolah mencari kesibukan. Aku menatap kosong kedepan.
“Ashilla?” Aku langsung tersadar.
“Eh?”
“Eum,bisa ngomong bentar?”
Aku berpikir sebentar dan menyetujuinya. Dia membawaku ke taman. Aku langsung duduk dibangku taman.
“Mau ngomong apa?” Tanyaku to the point. Asal kalian tau,hatiku seakan-akan copot saat dekat dengannya.
“Hm,ini punya lo”
Aku tersentak kaget. Itu kan.. Diaryku yang hilang itu? Ahhh!
“Kok.. ada di lo?” Tanyaku masih shock.
“Kemaren gue ke sini terus gue nemuin diary ini.. Dan,sori gue udah lancang baca isinya..”
Aku kaget. Banget. Kalian tau kan? Diary itukan curhatanku tentang dia..
“Semuanya?” Tanyaku tak percaya. Dia ngangguk ragu-ragu.
“Sorry..”
Aku pasrah. Oh.. Apa kata dunia? Harga diriku jatuh begitu saja.
“Lo.. Naksir sama gue?”
Mataku melebar dan menatapnya ragu-ragu,dan langsung membuang muka menahan malu.
“G-gak kok,gak. Siapa bilang?” Aku mengelak. Tapi jelas-jelas diary itu sudah menjelaskan semuanya. Ugh,kenapa aku harus ceroboh begini meletakkan barangku? Kan jadi gini akhirnya. Ah,Shilla bego!
“Diary lo” SKAKMAT. Tamatlah riwayatku kawan.
“Eh eh gue duluan ya Vin” Aku langsung ngacir meninggalkan Alvin sendirian. Fiuh,untung aku bisa lepas dari pertanyaan mematikan itu. Aku duduk dikantin,kebetulan kantin gak jauh dari parkiran jadi aku bisa tau kalau supirku sudah datang menjemput. Aku mengeluarkan laptop-ku dari tas dan membuka Microsoft Word,sepertinya aku punya ide membuat cerpen baru,yang kejadiannya tentang aku dan dia. Ya,aku dan dia. Aku pun larut dalam duniaku sampai bunyi klakson itu berbunyi. Aku noleh dan bergegas meninggalkan sekolah itu.
*****
Kukirim cerpen baru itu ke
pengurus mading sekolah. Dan mereka bilang cerpen ini bagus banget. Aku hanya
tersipu. Dan kudengar cerpen itu sudah di-madingkan,membuat segelintir siswa
siswi penasaran ingin membaca. Dan akhirnya..
“Shill cerpen lo TOPBGT!”
“Bagus banget Shill!”
“Kok bisa sih dalem banget cerpennya?”
“Lo emang berbakat Shill!”
“Bikin novel sekalian Shill! Gue yakin penerbit-penerbit ngincar lo!”
“Gue fans berat lo!”
Dan masih banyak lagi. Aku hanya tersenyum mendengar semua itu. Aku senang melihat mereka semua menyukai cerpenku. Berkat dia. Ya,berkat dia,sumber inspirasi terbesarku.
“Shill cerpen lo TOPBGT!”
“Bagus banget Shill!”
“Kok bisa sih dalem banget cerpennya?”
“Lo emang berbakat Shill!”
“Bikin novel sekalian Shill! Gue yakin penerbit-penerbit ngincar lo!”
“Gue fans berat lo!”
Dan masih banyak lagi. Aku hanya tersenyum mendengar semua itu. Aku senang melihat mereka semua menyukai cerpenku. Berkat dia. Ya,berkat dia,sumber inspirasi terbesarku.
*****
Kusuka dirinya..
Mungkin aku sayang..
Namun apakah mungkin kau menjadi milikku?
Mungkin aku sayang..
Namun apakah mungkin kau menjadi milikku?
Lirik lagu ini.. Sangat
dalam,sangat cocok dengan keadaanku sekarang. Apakah mungkin dia akan menjadi
milikku? Aku senyum tipis. Tidak,tidak mungkin. Aku hanya gadis biasa dan dia idola
sesekolahan. Lucu kalo sampai aku jadian dengannya. Ya,ini pasti hanya mimpi.
Ah,aku mendapat ide lagi. Ku buka laptopku dan langsung menulis segelintir
kata. Akan kukasih tau judulnya. Ingat,judulnya saja. Rasa Ini. Apa judulnya
aneh? Kurasa tidak juga.
*****
Kaupernah menjadi..
Menjadi miliknya..
Namun salahkah aku bila kupendam rasa ini..
Menjadi miliknya..
Namun salahkah aku bila kupendam rasa ini..
Drrt drtt..
Hape ku bergetar. Dengan ogah-ogahan aku meraih hape ku. Ku kerutkan keningku. Nomor tak dikenal. Aku berpikir sebentar. Ah,angkat sajalah. Siapa tau penting?
“Halo?” Sapanya duluan. Aku tercengang. Suara itu..
“H-ha-lo?” Balasku terbata-bata gugup. Buat apa dia menelponku dan.. kenapa dia tau nomorku?
“Shilla?”
“I-iya..”
“Gue Alvin” Tuh kan bener!
“Lo dapet dari mana nomor gue? Dan ada perlu apa lo nelpon gue malam-malam gini?” Tanyaku langsung tanpa banyak basa-basi.
“Bisa kita ketemu malam ini?”
Mataku melebar. Ya Tuhan.. Apa ini mimpi?
“Buat..?”
“Pokoknya lo siap-siap aja gue udah otw rumah lo”
Nah! Dia tau dari mana alamat aku? Dunia terbalik kah?
“Eh iya iya” Aku langsung melempar hapeku diatas kasur dan langsung buka lemari nyari baju pas buat keluar,nyisir rambut dan.. Alvin datang menjemput.
Hape ku bergetar. Dengan ogah-ogahan aku meraih hape ku. Ku kerutkan keningku. Nomor tak dikenal. Aku berpikir sebentar. Ah,angkat sajalah. Siapa tau penting?
“Halo?” Sapanya duluan. Aku tercengang. Suara itu..
“H-ha-lo?” Balasku terbata-bata gugup. Buat apa dia menelponku dan.. kenapa dia tau nomorku?
“Shilla?”
“I-iya..”
“Gue Alvin” Tuh kan bener!
“Lo dapet dari mana nomor gue? Dan ada perlu apa lo nelpon gue malam-malam gini?” Tanyaku langsung tanpa banyak basa-basi.
“Bisa kita ketemu malam ini?”
Mataku melebar. Ya Tuhan.. Apa ini mimpi?
“Buat..?”
“Pokoknya lo siap-siap aja gue udah otw rumah lo”
Nah! Dia tau dari mana alamat aku? Dunia terbalik kah?
“Eh iya iya” Aku langsung melempar hapeku diatas kasur dan langsung buka lemari nyari baju pas buat keluar,nyisir rambut dan.. Alvin datang menjemput.
*****
Dia membawaku kesebuah resoran.
Setelah memesan makanan,kami tidak mengobrol apa-apa,sampai dia berdehem.
“Lo.. Cantik banget malam ini”
Aku tersenyum malu-malu. Padahal aku hanya mengenakan terusan yang simple. Entah lah apa yang dia pikir. Tak beberapa lama,pesanan kami datang. Kami makan dalam diam. Aku berusaha mencairkan suasana yang awkward ini, tapi dia hanya sibuk makan. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu,dan diiringi suara biola yang indah. Dan akhirnya saat-saat awkward ini usai. Kami sudah selesai makan, dan dia sepertinya mau mengutarakan niatnya mengajakku malam-malam begini,makan direstoran seperti ini pula. Ia menatapku sejenak, lalu ia menepuk tangannya,seperti menyuruh sesuatu? Entahlah,aku tidak mengerti. Tak perlu waktu lama,dan benar saja. Ada seorang pelayan yang datang. Sepertinya ia membawa dessert . Tapi sepertinya aku tadi tidak memesan dessert . Mungkin bonus? Hehe. Pelayan itu menaruh semacam cupcake ,yang terlihat sangat manis disana. Tapi aku tercengang. Disana tertulis tulisan... Girlfriend ? Tapi aku tidak mau kegeeran dulu.
“Girlfriend ?” Dia mengulang tulisan itu sambil menatapku teduh. Aku speechless.
“Lo.. mau gue jadi cewek lo?”
Dia hanya menggangguk.
“Serius?”
Dia ngangguk lagi. Raut wajahnya terlihat sangat tegang. Membuatku ingin ketawa. Tapi tidak mungkin kan kalau aku ketawa disaat seperti ini?
“Buktikan kalau lo memang serius sama gue,coba”
“Lo mau gue buktiin apa?”
“Ke panggung itu,lalu nyanyi sesuatu buat gue. Gimana?”
“Kecilll” Aku tersenyum nakal.
“Jangan sombong dulu,sana”
Ia lalu benar-benar kedepan,lalu menyanyikan lagu Cantik-Kahitna. Aku kagum padanya. Ia menyanyikan salah satu lagu kesukaanku! Walaupun ini lagu lama,tapi aku sangat menyukainya. Diakhir lagu,aku memberikan standing applause ,sambil mengancungkan jempol. Ia lalu kembali kemeja tempat dia menyatakan cintanya,padaku. Tentu saja.
“Jadi gimana? Gue diterima,kan?” Tanyanya PD.
“PD amet sih” Aku menyahut cuek,sambil melirik cupcake imut ini.
“Jawab kek pertanyaan intinya..” Tanyanya mulai tidak sabar. Bisa kulihat Ia berkeringat dingin,membuatku gemas ingin mencubitnya.
Aku hanya mengambil ponselku,lalu memotret cupcake ini. Setelahku utak-atik sebentar, aku melirik Alvin. Dia masih menungguku. Aku tersenyum manis.
“Ayo pulang!” Ajakku seraya berdiri.
“Lah,jawabannya?”
“Ada di instagramku! Check aja kalau mau tau”
Ia langsung meng-check instagram,sedangkan aku melangkah kearah mobilnya.
“Lo.. Cantik banget malam ini”
Aku tersenyum malu-malu. Padahal aku hanya mengenakan terusan yang simple. Entah lah apa yang dia pikir. Tak beberapa lama,pesanan kami datang. Kami makan dalam diam. Aku berusaha mencairkan suasana yang awkward ini, tapi dia hanya sibuk makan. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu,dan diiringi suara biola yang indah. Dan akhirnya saat-saat awkward ini usai. Kami sudah selesai makan, dan dia sepertinya mau mengutarakan niatnya mengajakku malam-malam begini,makan direstoran seperti ini pula. Ia menatapku sejenak, lalu ia menepuk tangannya,seperti menyuruh sesuatu? Entahlah,aku tidak mengerti. Tak perlu waktu lama,dan benar saja. Ada seorang pelayan yang datang. Sepertinya ia membawa dessert . Tapi sepertinya aku tadi tidak memesan dessert . Mungkin bonus? Hehe. Pelayan itu menaruh semacam cupcake ,yang terlihat sangat manis disana. Tapi aku tercengang. Disana tertulis tulisan... Girlfriend ? Tapi aku tidak mau kegeeran dulu.
“Girlfriend ?” Dia mengulang tulisan itu sambil menatapku teduh. Aku speechless.
“Lo.. mau gue jadi cewek lo?”
Dia hanya menggangguk.
“Serius?”
Dia ngangguk lagi. Raut wajahnya terlihat sangat tegang. Membuatku ingin ketawa. Tapi tidak mungkin kan kalau aku ketawa disaat seperti ini?
“Buktikan kalau lo memang serius sama gue,coba”
“Lo mau gue buktiin apa?”
“Ke panggung itu,lalu nyanyi sesuatu buat gue. Gimana?”
“Kecilll” Aku tersenyum nakal.
“Jangan sombong dulu,sana”
Ia lalu benar-benar kedepan,lalu menyanyikan lagu Cantik-Kahitna. Aku kagum padanya. Ia menyanyikan salah satu lagu kesukaanku! Walaupun ini lagu lama,tapi aku sangat menyukainya. Diakhir lagu,aku memberikan standing applause ,sambil mengancungkan jempol. Ia lalu kembali kemeja tempat dia menyatakan cintanya,padaku. Tentu saja.
“Jadi gimana? Gue diterima,kan?” Tanyanya PD.
“PD amet sih” Aku menyahut cuek,sambil melirik cupcake imut ini.
“Jawab kek pertanyaan intinya..” Tanyanya mulai tidak sabar. Bisa kulihat Ia berkeringat dingin,membuatku gemas ingin mencubitnya.
Aku hanya mengambil ponselku,lalu memotret cupcake ini. Setelahku utak-atik sebentar, aku melirik Alvin. Dia masih menungguku. Aku tersenyum manis.
“Ayo pulang!” Ajakku seraya berdiri.
“Lah,jawabannya?”
“Ada di instagramku! Check aja kalau mau tau”
Ia langsung meng-check instagram,sedangkan aku melangkah kearah mobilnya.
*****
Alvin tersenyum tatkala melihat
postingan terbaru Shilla, yang mem-post cupcake imut itu disertai caption “I’m
officially yours! @joalvin”. Dengan langkah ringan disertai senyum manis,Ia
langsung keluar dari restoran itu.
*****
YAY! gimana? :3 maaf kalo mengecewakan,ini cerpen gue bikin pas kelas 7 loh:3 *ngeles* kk,gue tunggu kritik dan sarannya ya! thankyou for reading!